(Catatan dari nonton bareng film Kalam-Kalam Langit)
Film Kalam Kalam Langit diangkat berdasarkan draf 1 skenario yang
ditulis oleh Bapak Anas Bakri, kemudian seiring waktu hasil riset
lapangan, maka ditulis kembali oleh Faozan Rizal menjadi skenario utuh
yang difilmkan. Lalu oleh salah satu sastrawati Indonesia _ Mama Pipiet
Senja, dijadikan dalam bentuk novel.
Dalam film ini diceritakan
tentang seorang santri dari Lombok bernama Jafar, yang memiliki suara
indah saat membaca Al-Qur'an. Ia terlahir dari seorang Ibu yang pernah
menjadi qori'ah (pembaca Al-qur'an dengan lantunan indah) tingkat
nasional. Dan Jafar mewarisi kemampuan sang Ibu.
Suatu hari,
Jafar kecil memenangkan lomba mebaca Al-qur'an yang lebih dikenal dengan
Lomba MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an) ditingkat pesantren. Tapi
sayangnya sang Ayah sama sekali tidak gembira dengan prestasi putranya.
Ia bahkan sangat marah dan mengingatkan Jafar untuk jangan pernah lagi
mengikuti lomba yang dianggap pamer dan menjual ayat-ayat suci.
Hingga Jafar dewasa, tak pernah sekalipun ia berani mengikuti lomba MTQ lagi. Meski banyak yang memintanya.
Sampai suatu hari, Kiai pemilik pondok pesantren dimana Jafar nyantri,
memberinya penjelasan bahwa mengikuti perlombaan membaca Al-qur'an itu
adalah bagian dari Syi'ar Agama.
Dalam salah satu firman Allah
yang dibacakan sang Kiai, ada ayat yang menyebutkan bahwa Al-qur'an itu
dimudahkan, dianjurkan untuk dibaca dengan tartil (suara yang indah,
penyebutan huruf yang benar dan intonasi yang tepat) agar bisa dengan
mudah menyentuh hati tiap orang yang mendengarnya.
Setelah mendapat penjelasan tersebut, Jafar pun bersedia mengikuti lomba MTQ.
Sayangnya, tepat sebelum proses seleksi, Sang Ayah mengalami sakit
keras. Tapi Jafar tdk memiliki biaya untuk membawa Ayahnya ke Rumah
Sakit. Lalu seorang Ustadz yang selama ini mengincar putri Sang Kiai,
yang juga merupakan calon peserta yang akan menjadi saingan Jafar untuk
menjadi perwakilan pesantren, memanfaatkan kondisi sulit itu dengan
memberi pinjaman uang biaya perawatan bagi Ayah Jafar dengan syarat
harus mundur dan lomba.
Maka, demi sang Ayah, Jafar pun menerima
tawaran tersebut. Tapi hal yang sangat mengharukan terjadi. Diantara
rasa sakit yang berusaha ditahan, Ayah Jafar justru menegur putranya
agar jangan mau dibeli oleh siapapun. Ia tetap menginginkan sang anak
mengikuti lomba MTQ yang selama ini selalu ditentangnya. Dengan satu
catatan : "Bacalah dengan nama Tuhan mu..."
Dengan berurai air
mata, Jafar kembali ke pesantren dan mengembalikan uang yang dipinjamkan
oleh "rivalnya" tersebut. Dan tepat disaat Ia melantunkan ayat-ayat
Al-qur'an dari Surat Arrahman (yang banyak mengingatkan kita tentang
rasa syukur) di atas panggung, sang Ayah menghembuskan nafas
terakhirnya.
Peristiwa itu membuat Jafar sangat terpukul. Tapi
kehadiran seorang sahabat perempuan yang selalu membersamai sejak kecil
dan dukungan paman Jafar yang sangat peduli padanya, terus memberi
motivasi untuk meluruskan niat dan mengikuti lomba hingga tingkat
nasional. Tak peduli meski putri sang Kiai yang pernah dicintai dan
menikah dengan ustadz yang merupakan "rival" dalam lomba MTQ, memohon
agar Jafar mengundurkan diri lagi demi memenangkan suaminya.
》》
Film ini sarat dengan pesan moral, menegur para pelaku "makelar penjual
agama" dan menyampaikan kebaikan dengan cara yang indah.
Tidak
dipungkiri bahwa kasus penyimpangan dalam event religius terbesar
seperti MTQ sering terjadi dan dilakukan oleh segilintir oknum tertentu.
Begitu juga dengan niat para peserta lomba.
Dan melalui tokoh-tokoh
cerita dalam Kalam Kalam Langit inilah, sang penulis mengigatkan untuk
terus meluruskan niat serta tindakan kita dalam menyampaikan kebaikan
dan melakukan kebenaran.
Selain itu, ayat-ayat Al-qur'an serta
setting lokasi dalam film ini juga banyak sekali menyentuh hati kita
atas rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Maka, bacalah semesta
yang terbentang ini dengan hati kita. Resapi dan maknai dengan rasa
syukur yang mendalam. Lalu ceritakan semuanya dengan Indah. Iringi tiap
laku dalam kehidupan kita dengan tindakan-tindakan yang baik dan benar.
Demikianlah...
》》
Yang mau mendapatkan novelnya bisa lansung menghubungi penulisnya, Mama Pipiet Senja.
Atau mencari di toko buku masing-masing kota...
Semangat menebar kebaikan!!

____ Mataram, 5 Maret 2016